Lompat ke isi utama

Berita

Menjaga Khidmat Pancasila di Bumi Khatulistiwa

Upacara Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 Provinsi Kalimantan Barat

Suasana Khidmat Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 di Bawaslu Provinsi Kalimantan Barat 

Pontianak -- Jarum jam baru saja melewati angka 08.00 WIB, namun langit di atas Kota Pontianak sudah menunjukkan karakter aslinya. Matahari Juni naik dengan cepat, memancarkan sinarnya yang terik dan menyengat—sebuah sambutan hangat yang lumrah di bumi Khatulistiwa. Namun, di halaman belakang Kantor Bawaslu Provinsi Kalimantan Barat, hawa panas itu sama sekali tidak menyurutkan semangat puluhan pegawai, mahasiswa dan pimpinan.

Mereka berdiri tegap dalam balutan seragam Korpri bermotif batik biru. Berbaris rapi membentuk barisan yang presisi. Para pengawal demokrasi ini bersiap melaksanakan tradisi tahunan yang sakral: memperingati hari lahirnya ideologi bangsa, Pancasila pada 1 Juni 2026.

Halaman belakang kantor hari itu menjadi panggung yang bersahaja namun sarat makna. Areanya lumayan luas untuk menampung seluruh jajaran. Di beberapa sudut, beberapa pohon besar berdiri kokoh, mencoba menawarkan sedikit keteduhan melalui bayang-bayang daunnya yang rimbun. Namun, sebagian besar peserta upacara tetap memilih berdiri langsung di bawah paparan sinar matahari, membiarkan peluh perlahan mulai menetes dan membasahi kening.

Mengenang Lahirnya Pancasila 

Peserta Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 di Bawaslu Kalbar

Upacara dimulai ketika suara jernih Eva, yang bertindak sebagai pembawa acara (MC), memecah keheningan pagi. Dengan artikulasi yang tertata, ia memandu setiap tahapan upacara, membawa ritme upacara menjadi begitu tertib. Suasana mendadak kian senyap saat Ryanto, sang Pemimpin Upacara, mengambil posisi di tengah lapangan. Suaranya yang lantang dan tegas menggelegar, mengomandoi seluruh barisan untuk bersiap.

Momen dramatis yang dinanti pun tiba ketika tiga pemuda melangkah tegap dengan langkah serempak. Abdul Rahman bertindak sebagai pembawa bendera, diapit dengan sigap oleh Kevin dan Gigih di sisi kiri dan kanannya. Ketegasan derap langkah sepatu mereka menjadi pusat perhatian tunggal.

Saat kain bendera merah putih perlahan dibentangkan dan dikerek ke atas langit, semua pandangan terpaku ke pucuk tiang. Di bawah langit Khatulistiwa yang hangat, penghormatan khidmat diberikan bersamaan dengan berkumandangnya lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Rasa nasionalisme seolah memuncak, mengalahkan rasa gerah yang kian menyengat kulit.

Suara Ideologi dan Doa dalam Kehangatan

Setelah bendera berkibar di puncaknya, suasana sakral itu terus dirawat lewat rangkaian pembacaan teks penting. Riska maju ke depan dengan langkah mantap. Dengan suara yang tegas dan penuh penekanan, ia membacakan naskah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, mengingatkan kembali semua yang hadir pada cita-cita luhur pendirian republik ini.

Tak lama berselang, giliran Agnesia Ermi, Anggota Bawaslu Provinsi Kalimantan Barat yang bertindak sebagai Pembina Upacara, memimpin pembacaan teks Pancasila. Setiap sila yang ia ucapkan diikuti secara serempak oleh seluruh peserta upacara. Gema lima sila itu terdengar mantap, bersahut-sahutan di antara pepohonan besar yang mengelilingi kantor. Di barisan undangan, tampak hadir pula Anggota Bawaslu Kalbar Uray Juliansyah, Kepala Sekretariat Siska A. Yusra, serta Kabag Administrasi Wondo yang mengamati jalannya upacara dengan penuh khidmat.

Sebagai Pembina Upacara, Agnesia Ermi kemudian membacakan pidato resmi dari Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Di tengah cuaca yang kian membakar, untaian kata demi kata tentang keutamaan Pancasila meresap ke dalam benak peserta. Pidato tersebut menegaskan bahwa Pancasila bukanlah sekadar teks mati untuk dihafal setiap tanggal 1 Juni, melainkan sebuah panglima dalam tindakan (living ideology). Pancasila adalah jangkar penentu di tengah pluralisme bangsa, yang menyatukan segala perbedaan suku, agama, dan golongan dari Sabang sampai Merauke, tak terkecuali di bumi Kalimantan Barat yang kaya akan keberagaman.

Menjelang akhir upacara, suasana yang tadinya tegang dan tegas perlahan berubah menjadi syahdu. Khafid melangkah ke depan untuk memimpin doa. Di bawah terik matahari pagi yang kian meninggi, kepalanya tertunduk diikuti oleh seluruh peserta upacara. Untaian doa yang dilantunkannya mengangkasa, memohon kekuatan agar bangsa ini selalu diberkahi kedamaian, dan jajaran pengawal pemilu diberi keteguhan hati dalam menjalankan amanah.

Harmoni Lintas Generasi

Foto bersama peserta upacara

Upacara hari itu bukan sekadar seremonial formalitas bagi para pejabat struktural. Ia menjadi potret nyata harmoni lintas generasi di internal Bawaslu Kalbar. Di antara barisan seragam Korpri para ASN, tampak pula wajah-wajah muda mahasiswa yang sedang magang, serta para tenaga alih daya yang sehari-hari menjadi roda penggerak teknis kantor. Semuanya melebur, berdiri sejajar tanpa sekat di atas lapangan yang sama.

Bagi jajaran Bawaslu Kalbar, esensi Pancasila memiliki resonansi yang jauh lebih dalam. Sebagai lembaga yang memikul tanggung jawab moral mengawal keadilan pemilu, nilai-nilai Pancasila—terutama keadilan sosial dan musyawarah—adalah kompas utama dalam setiap kerja pengawasan, penindakan, dan pencegahan konflik di lapangan.

Ketika Ryanto akhirnya membubarkan barisan, matahari pagi itu sudah bertengger tinggi, memanaskan halaman belakang dengan suhu yang kian maksimal. Namun, para pegawai bubar dengan senyum merona dan obrolan yang hangat. Rasa gerah kalah oleh rasa bangga. Di halaman belakang yang sederhana namun dipenuhi semangat membara itu, mereka baru saja memperbarui janji setia kepada bangsa: membumikan Pancasila, menjaga khidmatnya, langsung dari Bumi Khatulistiwa, Pontianak Kalimantan Barat.

Penulis: Rahmat Al Kafi

Editor: Oby

Tag
pancasila
upacara
toast

Media Sosial

news

Lokasi Bawaslu Provinsi

tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle
tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle