Bawaslu Kalbar Berbagi Ilmu Pengawasan ke Mahasiswa Universitas PGRI Jelang Pemilihan Presma
humas | Rabu, Juni 10, 2026 - 14:23
PONTIANAK, BAWASLU KALBAR – Menjelang pelaksanaan Pemilihan Presiden Mahasiswa (Presma), Anggota sekaligus Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Provinsi Kalimantan Barat, Yosef Harry Suyadi, membagikan pengalaman dan pemahaman terkait pengawasan pemilu kepada mahasiswa Universitas PGRI Pontianak. Pembekalan ini diberikan dalam agenda Pelatihan Panitia Pemilihan Umum (PPU) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) mahasiswa yang diinisiasi oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Republik Mahasiswa (REMA) Universitas PGRI Pontianak.
Kegiatan yang dikemas dalam bentuk diskusi interaktif ini berlangsung secara berbobot di Aula Hadari Nawawi kampus setempat. Dalam kesempatan tersebut, Yosef Harry Suyadi mengajak para mahasiswa dan calon pengurus BEM membedah bersama tugas-tugas krusial pengawas pemilu, mulai dari mengenali potensi pelanggaran administrasi, menjaga netralitas panitia, hingga mekanisme pelaporan jika ditemukan indikasi kecurangan di lapangan.
“Pemilu kampus itu adalah miniatur pemilu nasional. Prinsipnya sama, yakni jujur, adil, dan rahasia. Pengawas partisipatif dari kalangan mahasiswa sendirilah yang paling memahami dinamika di lapangan,” ujar Yosef Harry Suyadi saat membuka sesi pemaparan materi.
Selama jalannya pelatihan, mahasiswa Universitas PGRI Pontianak terlihat sangat aktif. Banyak peserta yang melontarkan pertanyaan mendalam seputar teknis pengawasan saat proses pemungutan suara, cara membedakan antara kampanye hitam (black campaign) dengan kritik yang wajar, hingga strategi menjaga sikap netralitas panitia apabila terdapat senior atau rekan terdekat yang ikut berkontestasi.
Pihak universitas melalui Bagian Kemahasiswaan menyambut baik kehadiran Bawaslu Kalbar. Menurut mereka, pembekalan dan supervisi langsung dari lembaga pengawas pemilu resmi ini sangat penting agar pemilihan Presma serta pengurus BEM tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, melainkan menjadi ruang belajar demokrasi yang sehat, bersih, dan berintegritas di lingkungan akademisi.