Lompat ke isi utama

Berita

Bawaslu dan Kemenag Kalbar Gandeng Tangan Merawat Demokrasi

Bawaslu Kalbar

Bawaslu dan Kemenag Kalbar Gandeng Tangan Merawat Demokrasi

Matahari Pontianak sedang tidak ingin diajak berkompromi siang itu. Senin (2/2/2026).Panasnya menyengat, berkelindan dengan kabut asap tipis yang menggantung di langit kota akibat lahan-lahan yang terbakar saat hujan telah lama tidak menyapa Kota ini. 

Nampak dari kejauhan dua mobil yang melaju membelah jalanan utama Kotabaru yang di dalamnya Pimpinan dan staf Bawaslu Provinsi Kalimantan Barat. Sesaat tiba, mereka langsung memasuki ruang yang dijanjikan bertemu. Mereka seolah tak punya waktu untuk mengeluhkan cuaca.

Perjalanan itu singkat, hanya lima menit dari markas pengawas pemilu di Jalan Sultan Abdurrahman menuju Jalan Sutan Syahrir—alamat Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Kalimantan Barat. Bangunan berciri khas Melayu dengan dominasi warna kuning dan hijau itu berdiri kokoh, seolah menjadi oase visual di tengah terik yang memanggang aspal.A

Ini bukan kunjungan inspeksi mendadak, bukan pula pemanggilan atas sengketa. Ini adalah sebuah diplomasi meja tamu untuk urusan yang jauh lebih besar: menjaga akal sehat demokrasi.

Diplomasi Teh dan Gurauan

Di ruang tamu Kanwil Kemenag, suasana kaku birokrasi seketika luruh. Ruangan itu didominasi furnitur kayu ukiran Jepara yang berat dan gorden emas yang menjuntai, namun atmosfernya cair. Aroma teh hangat menguar, bersanding dengan penganan kecil di atas meja kaca.

"Bukan teh Medan, kalau teh Medan ya panas," seloroh salah satu peserta, memecah hening awal pertemuan. Tawa kecil meledak. Gurauan sederhana tentang karakteristik teh itu menjadi jembatan pembuka yang efektif. Di ruangan itu, sekat-sekat protokoler menipis.

Ketua Bawaslu Kalbar, Mursyid Hidayat, duduk berhadapan dengan tuan rumah. Gestur tubuhnya santai namun tatapannya serius ketika pembicaraan mulai menyentuh substansi. Di sebelahnya, anggota Bawaslu, Yosef Harry Suyadi, turut menyimak. Mereka sadar, tahun 2026 bukan tahun yang mudah bagi penyelenggara pemilu.

"Untuk melahirkan pemilu yang berkualitas dan demokratis, diperlukan dukungan penuh dari seluruh elemen masyarakat, termasuk Kementerian Agama," ujar Mursyid. Suaranya tenang, namun pesannya tegas. Ia tahu, Kemenag memiliki kaki-kaki yang panjang hingga ke akar rumput—melalui penyuluh agama, madrasah, dan tokoh masyarakat.

Saling Mengingatkan demi Kebaikan Demokrasi

Isu yang dibawa ke meja diskusi siang itu adalah "barang panas" yang kerap memicu sengketa: Netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN).

Di tubuh Kementerian Agama, irisan antara tugas negara dan peran keagamaan seringkali setipis kulit bawang. Bagaimana dengan ASN yang diminta memimpin doa dalam acara yang dihadiri politisi? Di mana batas antara ibadah dan kampanye terselubung?

Diskusi itu melahirkan sebuah pemahaman penting, semacam win-win solution di tengah ketatnya Undang- Undang Pemilu/pemilihan. Disepakati bahwa ASN Kemenag tetap diperbolehkan terlibat dalam kegiatan seremonial, seperti pembacaan doa. Syaratnya mutlak: murni ibadah, tanpa embel-embel simbolik yang menguntungkan salah satu pihak, dan tidak melanggar prinsip netralitas.

Ini adalah "lampu hijau" yang melegakan bagi ribuan pegawai Kemenag yang kerap gamang saat musim politik tiba.

Sepakat Menjaga Pemilih Pemula

Selain urusan birokrat, mata Bawaslu juga tertuju pada generasi yang baru pertama kali akan mencoblos. Yosef Harry Suyadi, Koordinator Divisi Pencegahan, Parmas, dan Humas, menekankan pentingnya literasi politik sejak dini.

"Pencegahan adalah kunci," kata Yosef. Bagi Bawaslu, madrasah dan pesantren di bawah naungan Kemenag adalah lumbung suara pemilih pemula yang masif. Jika mereka tidak dipagari dengan pemahaman demokrasi yang sehat, mereka rentan menjadi objek eksploitasi politik uang atau hoaks.

Pertemuan di ruangan berpendingin udara itu berakhir tanpa penandatanganan dokumen tebal yang membosankan. Tidak ada seremonial kaku. Yang ada hanyalah jabat tangan erat dan kesepahaman tak tertulis bahwa menjaga demokrasi tidak bisa dilakukan sendirian oleh Bawaslu.

Ketika rombongan kembali keluar menuju panasnya Pontianak yang masih diselimuti kabut asap, setidaknya satu hal sudah menjadi jelas. Di balik tembok kuning-hijau itu, benteng pertahanan netralitas ASN dan kewarasan pemilih pemula telah diperkuat, bukan dengan ancaman sanksi, melainkan lewat secangkir teh dan dialog yang memanusiakan dan dalam gandengan tangan demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

toast

Media Sosial

news

Lokasi Bawaslu Provinsi

tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle
tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle